ikuti kami di
  Pencarian
 

Dra. C.I.M. Kusuma Widiawati

Kepala Sekolah


Agustus, 2017
MSSR KJS
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

DAPDODIK
  NISN
  NPSN
  NUPTK

KRITIK DAN SARAN
2013-04-18 11:17:02
  Fairus ( Riris)
  Hasil Olimpiade
 
2013-04-18 11:06:50
  Devi Andriyani
  Perangkingan hasil Olimpiade
 
2013-04-18 11:02:19
  I Putu Sundika
  Reuni lulusan tahun 1994
 

ALUMNI TRISMA
Nama Alumni
Angkatan
Jurusan


 
ARTIKEL DETAIL
http://sman7denpasar.sch.id/ - Rabu, 17 April 2013
Pendidikan Berkarakter Bangsa Haruskah..
Dibaca: 2073 Pengunjung


Oleh : administrator

Dari jajaran teratas sampai terendah sibuk dengan urusan pendidikan di dunia formal yang (harus) mengedepankan pendidikan berkarakter bangsa. Ada apa sebenarnya, dan mengapa?

Keberadaan sosok yang bernama moral di kalangan remaja saat ini menjadikan banyak kalangan ‘kebakaran jenggot’. Banyak di antara mereka merasa tercengang, mengapa prilaku manusia semakin hari semakin tak tentu arahnya. Padahal di kalangan mereka sudah mengenyam pendidikan baik di tingkat sekolah dasar, pendidikan menengah pertama, pendidikan menengah atas, bahkan perguruan tinggi. Jika dikaitkan dengan hukum sebab akibat, maka jika semakin mampu sebuah negara (di Indonesia) menjadikan masyarakatkan melek hurup tidak hanya pencanangan wajar sembilan tahun sukses, tetapi berkeinginnan untuk ke depannya lebih dari itu. Bisa jadi mengarah wajar dua belas tahun. Itu artinya banyak penduduk yang melek huruf alias ‘sedikit’ cerdas. Namun fakta berbicara lain saat ini. Banyak terjadi kerusuhan, tawuran antarpelajar, perampokan, perokok, narkoba, aktivitas premanisme semakin merajalela, seks bebas, kenakalan remaja yang tidak menentu arahnya, prilaku mereka yang sudah mengenyam pendidikan semakin tidak terkontrol, dan masih banyak yang terlihat di permukaan.
Jika sistem yang dikatakan salah dalam proses pendidikan di dunia formal, benarkah? Coba diamati beberapa konsep yang dijadikan pijakan, seperti:
Pasal 33 UU Sisdiknas,menyatakan: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Sementara Ki Hajar Dewantaramenekankan “Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita”.
Dan menurut  Unescoada empat pilar dalam pendidikan, yaitu “learning to know (belajar untuk tahu), learning to dow (belajar untuk melakukan), learning to be (belajar untuk memahami apa yang telah dipelajari), danlearning to live together (belajar hidup bermasyarakat)”.
Permen nomor 23 tahun 2006antara lain menyatakan “Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja; Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki kekurangannya; Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan, dan pekerjaannya; Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia; Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat.”
Di sisi lain pengaruh intrapersonal dan interpersonalsangat menentukan, jika dikaitkan dengan logika dan rasa yang dimiliki seseorang. Di dalamnya mucul empat hal yang harus diberdayakan, yaitu olah pikir (memiliki visi, cerdas, kreatif, dan terbuka), olah hati (jujur, ikhlas, religius, dan adil), olah raga (gigih, kerja keras, disiplin, bersih, dan bertanggung jawab), dan olah rasa/karsa (peduli, demokratis, gotong royong, dan suka membantu).
Menurut Dr. Thomas Lickona, “In character education, it’s clear we want our children are able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right-even in the face of pressure form without and temptation from within”.
Dari landasan-landasan yang disampaikan di atas, grand design pendidikan karakter bangsa yang disuguhkan sebagai berikut dan sudah jelas, yaitu nilai-nilai luhur didasarkan pada agama, Pancasila, UUD 1945, UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, lalu diimbangi dengan adanya teori pendidikan, psikologi, nilai, sosial, dan budaya yang ada. Dan juga disuguhkan pengalaman terbaik yang nyata. Pengimplementasiannya, dalam dunia formal terangkum dalam Satuan Pendidikan, yang terlihat dalam proses pembelajaran di kelas (belajar), di luar kelas (ekstrakurikuler), dan dalam keseharian di lingkungan sekolah. Dalam dunia nonformal, kegiatan di rumah maupun di masyarakat merupakan pembiasan dari pendidikan di sekolah.
Memperingati hari Pendidikan Nasional tahun 2010 bertemakan “Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa”. Sinal yang disuguhkan saat ini adalah dunia pendidikan formal dijadikan sumbu terpenting dalam menumbuhkan dan mengarahkan pendidikan berkarakter bangsa ini, dan sebagai motor penggerak ke semua lini yang kelak akan dimasuki dan digeluti peserta didik kelak. Siapa Anda? Tidak penting, tetapi yang lebih penting adalah “hati dan otakmu”.
Pendidikan karakter bangsa diharapkan tahun 2012 sudah memasuki  ‘Satuan Pendidikan’ sebesar 25% dan pada tahun 2014 diharapakan pendidikan berkarakter bangsa sudah terealisasi secara sempurna dan siap diajarkan.
Perayaan hari Pendidikan Nasional tahun 2011, Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh mengisyaratkan “di antara karakter yang ingin kita bangun adalah karakter yang berkemampuan dan berkebiasan yang terbaik, giving the best sebagai prestasi yang dijiwai oleh nilai-nilai kejujuran”. Selain itu dikatakan keadaan ini dicermati sebagai sebuah fenomena SIRKUS, yaitu tercerabutnya karakter asli dari masyarakat, sedangkan fenomena anomali yang sifatnya ironis paradoksal menjadi fenomena keseharian, yang dikhawatirkan pada akhirnya dapat mengalami metamorfose karakter.”
Jika diumpamakan sama dengan penegak hukum yang semestinya menegakkan hukum justru dihukum, atau para pendidik yang seharusnya mendidik, justru berbalik dididik, dan para pejabat yang seharusnya melayani masyarakat justru minta dilayani. Contoh ini sebagian dari pendidikan yang berkarakter bangsakah? Menyikapi hal itu, dunia formal yang sudah mampu mengedepankan pendidikan berkarakter bangsa perlu disikapi dengan realisasi seperti: sekolah perlu menerapkan pendidikan berkarakter bangsa yang diimplementasikan di setiap mata pelajaran. Kesuksesan yang diraih bisa terlihat dari kebudayaan milik sendiri dan kebudayaan negara lain tetap dipelajari dalam sebuah sekolah. Keistimewaan yang dapat dimanfaatkan bagi sekolah yang memiliki teknologi maju adalah dapat memanfaatkan vidio teleconference sebagai penyambung dalam melakukan aktivitas berdialog dengan sekolah yang ada di luar negeri. Selain itu, diharapkan untuk peluang lain adalah adanya ekstrakurikuler yang menekankan pada budaya dan agama. Dalam waktu-waktu tertentu mereka melakukan pertemuan dengan sekolah-sekolah untuk warga negara asing yang berada di Indonesia. Keberhasilan lain adalah memiliki pusat sumber belajar yang benar-benar lengkap dan nyaman. Perpustakaan dan computer bergabung menjadi satu dalam PSB (Pusat Sumber Belajar). Pasalnya, dalam era demokrasi saat ini, banyak bermunculan pemikiran-pemikiran dan ideologi yang berujung pada hilangnya karakter bangsa.Harapan lain yang diinginkan adalah pendidikan usia dini harus menjadi ujung tombak pembangunan karakter bangsa.
Terbukti pencanangan pendidikan karakter sebagai gerakan bangsa telah diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 20 Mei 2011 sebagai puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional dan Kebangkitan Nasional.
Hari Pendidikan Nasional 2011 bertema “Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa” merupakan keniscayaan untuk mewujudkan prestasi dengan tetap menjunjung tinggi budi pekerti. Itulah konsep pendidikan ideal yang penting dalam pembentukan akhlak anak bangsa yang diharapkan jadi fondasi dalam menyukseskan Indonesia Emas 2025 nanti. Tema itu tepat, mengingat, beberapa dekade terakhir, hati nurani kita digelisahkan oleh kemerebakan aksi kekerasan, kecanduan narkoba, seks bebas/perselingkunhan, budaya suap, kolusi, korupsi, nepotisme, manipulasi anggaran, dan gaya hidup glamor. Sungguh, kita merindukan Indonesia yang multikultur, memiliki jati diri sebagai bangsa beradab dan terhormat. Dunia pendidikan dinilai tak di arahkan untuk memanusiakan manusia secara utuh, lahir dan batin. Namun lebih diorientasikan ke materialisme, ekonomis, dan teknokratis, kering dari sentuhan nilai moral, kemanusiaan, dan kemuliaan budi pekerti.
Pendidikan lebih mementingkan kecerdasan intelektual, akal, dan penalaran, tanpa diimbangi keintensifan pengembangan kecerdasan emosi dan spiritual. Tak pelak, apresiasi keluaran pendidikan kehilangan kepekaaan nurani, hedonis, arogan, dan miskin kearifan, pendidikan nalar eksploratif dan kreatif pun mundur.
Di Indonesia. Patut dipertanyakan, apakah sistem pendidikan kita sudah memiliki proporsi 20% hard skill dan 80% soft skill?  Apakah pendidikan mampu menciptakan empat karakter bagi anak bangsa (Foerster, 1869-1966), yakni 1) keteraturan berdasar nilai, 2) keberanian memegang teguh prinsip, 3) otonomi dalam keputusan, dan 4) keteguhan pada komitmen? Dan, yang paling penting dan mendasar, apakah pengajaran ilmu (ekonomi) telah sesuai dengan akar budaya ekonomi Indonesia mengingat “ilmu tidak bebas nilai”?
Pendidikan karakteradalah konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945, khususnya UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasonal. Disebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan  kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa  yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementrian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design dengan empat konfigurasi karakter. Pertama, olah hati (spiritual and emotional development). Kedua, olah pikir (intellectual development). Ketiga, olah raga dan kinestetik (physical and kinestetic development). Keempat, olah rasa dan karsa (affective and creativity development), seperti yang telah diungkapkan di atas.
Pendidikan karakter harus mampu menciptakan manusia yang memiliki karakter terbaik, yaitu bertakwa, berilmu tinggi, dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan karakter harus dilakukan melalui pembudayaan dan pembiasaan hidup dengan tata nilai yang diyakini kebenarannya yang dapat mengubah hal-hal yang lahiriah dan jiwa manusia sehingga jadi manusia bertakwa.
Proses pengajaran harus memberikan dimensi moralitas budaya Indonesia dari setiap materi ajar.Sebab, buku teks yang digunakan umumnya dari barat yang tak bebas nilai. Ilmu yang diajarkan harus tersambung dengan konteks Indonesia, baik konteks ideologi, sosial, kultural, institusional, agama, maupun konteks historis dan geografis. Pengajaran sebaiknya memakai metode induktif bukan deduktif. Jadi anak didik memahami realitas dan kenyataan empirik Indonesia yang penting bagi keparipurnaan lulusan lembaga pendidikan.
Pendidikan karakter menjadi tema peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini. Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh mengatakan, pendidikan karakter tidak hanya untuk membangun karakter pribadi berbasis kemuliaan semata, tetapi secara bersamaan juga bertujuan membangun karakter kemuliaan sebagai bangsa, yang bertumpu pada kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa dan negara.
Terkait maraknya radikalisme, terorisme, dan gerakan Negara Islam Indonesia (NII), Komisi X DPR berjuang keras merevitalisasi Pancasila di bidang pendidikan. Hal itu pernah dikemukakan Wakil Ketua Komisi X DPR dari Fraksi Partai Golkar. Menurutnya, pengajaran Pancasila sebagai dasar negara di dunia pendidikan harus direvitalisasi. Sebab, pola indoktrinasi dan penafsiran tunggal selama ini, telah mengerdilkan Pancasila dan membuatnya ditinggalkan sebagai ideologi berbangsa dan bernegara. Karena itu, mereka mendorong adanya penguatan dalam materi pendidikan Pancasila. Ini sebagai upaya pemantapan karakter bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, disebutkan DPR juga mendukung rencana Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menjadikan empat mata pelajaran (mapel) menjadi kewenangan pemerintah pusat, yaitu, Agama, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Pendidikan Kewarganegaraan/PKn yang memuat Pancasila secara nasional dan yang utama.
Karena sifatnya berupa perubahan kurikulum yang mendasar, ini membutuhkan kajian terlebih dahulu, termasuk kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Sebelum ditetapkan, Komisi X DPR akan melakukan telaah pada masa sidang di parlemen. Ini dimaksudkan agar Pancasila tetap menjadi muatan pokok PKn.
Wacana perubahan pola penerapan KTSP tersebut, muncul dari hasil tinjauan kurikulum yang dilakukan pada tahun 2010. Meski belum menjadi kebijakan, namun nanti pengelolaan empat mapel itu akan dilakukan secara nasional. Sekarang ini, pola kurikulum KTSP semua diserahkan ke daerah. Ke depan, dimungkinkan ada pembagian pengelolaan. Khusus untuk empat mapel itu akan disusun, dikembangkan, dikendalikan, dan diawasi oleh pusat secara nasional. Sedangkan mapel lainnya mengenai seni budaya, sosial, dan muatan lokal, diserahkan ke daerah dan sekolah. Empat mapel ini adalah memiliki penalaran logika secara nasional dan umum. Tapi, baik pemerintah pusat maupun daerah tetap tidak boleh membedakan matematika antardaerah.
Pemisahan mapel antara yang dipegang pemerintah pusat dan daerah akan menyelesaikan sejumlah pertanyaan di masyarakat. Termasuk sebagai upaya meningkatkan karakter bangsa dan mengatasi paham yang bertentangan dengan ideologi negara. Menasionalisasikan empat mapel itu maka sekolah tak boleh menambahkan materi apapun ke dalamnya. Untuk urusan agama, pendidikan Pancasila (PKn), Bahasa Indonesia, dan matematika ini dikunci secara nasional. Jadi semuanya di sekolah itu akan diawasi.
Jika dilihat dari perjalanan panjang bangsa ini, maka pendidikan karakter sudah tiga kali mengalami pergeseran yakni Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi. Pada masa Orde Lama, siswa dididik, dilatih dan diingatkan untuk bermental mempertahankan kesatuan dan persatuan. Pada masa Orde Baru, bangsa Indonesia disuruh mempertahankan dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila sebagai perilaku sehari-hari. Sedangkan pergeseran karakter ketiga yakni bangsa Indonesia kembali membangun pendidikan karakter. Pendidikan karakter yang akan diterapkan saat ini tidak akan berdiri sendiri dalam suatu mata pelajaran khusus, melainkan terintegrasi dengan mata pelajaran lainnya. Misalnya, kurikulum berbasis agama akan terintegrasi dengan pendidikan karakter, budaya, matematika, dan mata pelajaran lainnya. Karakter merupakan keistimewaan dan ciri yang membentuk sifat dasar seseorang, juga menggambarkan moral atau kualitas etika seseorang.  Karakter moral merupakan suatu evaluasi terhadap kualitas moral yang bertahan lama pada seseorang. Konsep karakter akan berimplikasi pada beragam atribut termasuk nilai seperti integritas, keberanian, ketabahan, keuletan, kejujuran, dan kesetiaan.
Pendidikan karakter kini memang menjadi isu utama pendidikan, selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa, pendidikan karakter ini pun diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam mensukseskan Indonesia Emas 2025. Pendidikan karakter sangat erat dan dilatarbelakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab”.
Agar setiap sekolah dan seluruh lembaga pendidikan memiliki school culture, dan setiap sekolah memilih pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. Lebih lanjut Wamendiknas pun berpesan, agar para pemimpin dan pendidik lembaga pendidikan tersebut dapat mampu memberikan suri teladan mengenai karakter tersebut. Hendaknya pendidikan karakter ini tidak dijadikan kurikulum yang baku, melainkan dibiasakan melalui proses pembelajaran. Selain itu mengenai sarana-prasaran, pendidikan karakter ini tidak memiliki sarana-prasarana yang istimewa, karena yang diperlukan adalah proses penyadaran dan pembiasaan.
Jika semua terasa jelas, tidak ada salahnya anjuran yang positif diikuti dengan kesungguhan hati yang ‘legowo’ untuk melakoni apa yang sudah dicanangkan bersama. Tidak ada salahnya “positive thinking” itu perlu dan harus, demi pendidikan yang berkarakter bangsa di Indonesia yang memang sangat diangan-angankan berubahnya konsep pemikiran para generasi tua maupun muda. Pencucian otak untuk masyarakat Indonesia ke arah yang positif lewat pendidikan karakter bangsa sangat dibutuhkan saat ini. Semoga.
Oleh : CIM Kusuma Widiawati


Dibaca: 2073 Pengunjung


 
artikel Lainnya
06 Mei 2014 : Program Matrikulasi Sebagai Dampak Pelaksanaan Kurikum KTSP 2013 Secara Serentak Di Semua Satuan Pe
01 Desember 2013 : TATTOO TUBUH PENTINGKAH ?
17 September 2013 : Workshop Pengembangan Program Paket Aplikasi Sekolah (PAS)
11 September 2013 : Foto Lazer Bisa Membuat Orang Menjadi Muda
11 September 2013 : Sosok Yang Suputra Cerminan Pendidikan Yang Berhasil
Cari artikel :    
 

Drs. I Ketut Muditha,M.Pd

Wakasek Kurikulum

I Nyoman Sedana,S.Pd, MM

Wakasek Kesiswaan

Drs. I Made Siarta, M.Pd

Wakasek SaPras


VIDEO KEGIATAN
Video Kegiatan Lainnya

SITUS TERKAIT
  SMAN 4 Denpasar
  SMAN 5 Denpasar
  SMAN 2 Denpasar
  SMAN 3 Denpasar
  SMAN 8 Denpasar
  NUPTK
  SMAN 1 Denpasar
Situs Terkait Lainnya

JAJAK PENDAPAT
Bagaimana Penilaian Anda Terhadap Website SMAN 7 Denpasar?
Sangat Bagus
Bagus
Kurang Bagus
Jelek
 
Responden : 835 Responden
Lihat hasil

 

SMAN 7 Denpasar
Beranda
Peta Situs
Situs Terkait
Foto
Video
Kritik Saran
Kontak Kami
Peta Lokasi

Lihat Peta Lebih Besar
Statistik Pengunjung
1804940

Pengunjung hari ini : 85
Total pengunjung : 230396
Hits hari ini : 533
Total Hits : 1804940
Pengunjung Online: 1


Kontak Informasi
SMAN 7 Denpasar
Jl.Kamboja No.9 Denpasar - Bali, Indonesia
 
P. 0361-222544
F. 0361-222544
E. info@sman7denpasar.sch.id
W. www.sman7denpasar.sch.id

Copyright © 2009 - 2012 SMA Negeri 7 DENPASAR. All Rights Reserved.  
ikuti kami di