ikuti kami di
  Pencarian
 

Dra. C.I.M. Kusuma Widiawati

Kepala Sekolah


Juni, 2017
MSSR KJS
    123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930 

DAPDODIK
  NISN
  NPSN
  NUPTK

KRITIK DAN SARAN
2013-04-18 11:17:02
  Fairus ( Riris)
  Hasil Olimpiade
 
2013-04-18 11:06:50
  Devi Andriyani
  Perangkingan hasil Olimpiade
 
2013-04-18 11:02:19
  I Putu Sundika
  Reuni lulusan tahun 1994
 

ALUMNI TRISMA
Nama Alumni
Angkatan
Jurusan


 
ARTIKEL DETAIL
http://sman7denpasar.sch.id/ - Selasa, 10 September 2013
Bimbingan Belajar Berteknologi
Dibaca: 1591 Pengunjung


Oleh : administrator

Sumber Photo : google.com.
Pendidikan di Indonesia berpegangan pada UUD 1945 Bab XIII Pasal 31 Ayat 1, bahwa tiap warga negara berhak mendapat pengajaran, dan ayat 2 tentang pengaturan sistem pendidikan, yang diperjelas dalam UU No. 20 Th. 2003, dan PP No. 19 Th. 2005. Dalam RAPBN 2010 yang mencapai 327,6 triliun untuk saat ini anggaran di bidang pendidikan diprioritaskan 20%, sedangkan sebelum tahun 2009 mencapai 12%. Hal ini jelas menjadikan petinggi dan penentu di bidang pendidikan bagaikan cacing kepanasan yang sebenarnya tidak panas. Artinya kepastian tentang pendidikkan di Indonesia sudah jelas dan anggaran sebesar 51,8 triliun dalam RAPBN yang dialokasikan untuk sektor pendidikan, saat ini harus bisa dimanfaatkan secara tepat dan benar untuk dunia pendidikan, dan salah satunya adalah memperhatikan nasib guru, sehingga guru menjadi sorotan.
Kondisi itu disikapi dengan guru harus disejahterakan, yang sebenarnya guru di perkotaan sudah ’sejahtera’ sementara di pedesaan cukup memprihatinkan. Maka munculah satu kebijakan yaitu sertifikasi untuk guru (PP No. 41 Th. 2009 dan Permendiknas RI No. 11 Th 2008). Namun apa yang terjadi? Guru berlomba-lomba agar lebih dahulu disertifikasi, padahal kenyataannya dunia pendidikan tidak meminta hal seperti itu. Di sisi lain, guru tetap berlomba untuk mengajar di berbagai tempat dan berlomba mengais rejeki di bimbel yang mereka geluti tanpa rasa bersalah, sehingga bimbingan belajar marak ditemui di pusat-pusat kota. Mulai dari gaya bimbel perorangan di rumah sang tutor sampai bimbingan bersama dalam kelompok yang ’kelihatan’ maupun yang ’tidak kelihatan’. 
Maraknya bimbel di saat akan berlangsungnya ujian nasional, menjadikan prioritas utama para pelaku bisnis untuk menyalurkan hajatnya, karena keuntungan sepertinya sudah di depan mata. Berbagai cara dilakukan. Bahkan tidak menutup kemungkinan cara-cara tak halal pun disepakati. Kondisi semacam itu menjadikan para subjek didik bagaikan itik kehilangan induknya, bingung mencari di mana tempat bimbingan yang bagus dan berkualitas. Karena banyaknya janji-janji yang disodorkan para pelaku bisnis. Sebagian termakan dan sebagian tak termakan hasutan.
Bimbingan belajar (bimbel) sesungguhan memiliki pengertian untuk membantu para siswa mempersiapkan diri menghadapi tes/ujian. Keberadaan bimbingan berorientasi pada tersedianya tempat belajar bagi siswa di luar lingkungan formal; tempat untuk melakukan try out secara mandiri; meningkatkan motivasi belajar dan meningkatkan nilai; mendapatkan sang tutor yang berkualitas; serta adanya lingkungan yang berbeda yang secara psikologis dapat menjadikan bertambahnya wawasan siswa tentang berbagai hal; banyak teman; dekat dengan rumah sehingga biaya murah; kesiapan mental diasah untuk menghadapi ujian; dsbnya. Intinya mengajarkan siswa untuk mencapai kebenaran ilmiah/formal, walaupun di balik itu terdapat kebenaran material dan alamiah.                
Bimbel  yang muncul khususnya di perkotaan  berlangsung dengan cepat, bagaikan jamur di musim hujan dengan berbagai model, tetapi tetap mengusung unsur konvensional.
  1. Bimbel yang berbentuk les atau pengayaan atau pemantapan atau belajar tambahan atau nama lain yang dipakai, yang dilakukan di pagi atau disore hari yang dikelola oleh sekolah dan tenaga pengajar dari sekolah bersangkutan. Bimbel semacam ini tentu meminta semua komponen sekolah terlibat. Mulai dari seluruh siswa, guru maupun pegawai. 
  2. Bimbel di rumah siswa dan guru datang ke rumah siswa atau sebaliknya, siswa yang datang ke rumah guru. 
  3. Bimbel diprakarsai oleh kepala sekolah atau guru bidang studi, mereka berkelompok membentuk bimbel dengan menggunakan lisensi sebuah bimbel yang sudah dikenal, dengan siswa dari kalangan tempat guru mengajar.
  4. Bimbel yang telah memiliki kepastian hukum, yaitu sebuah organisasi bimbel yang memiliki cabang di seluruh kabupaten, bahkan ada juga di beberapa provinsi.
Penyajian di atas yang pengelolaannya kurang profesional adalah sebuah konsep bimbel yang keberadaannya perlu diluruskan, mengingat sebagian besar bimbel sarat dengan muatan ’aji mumpung’ dan berorientasi pada keuntungan semata, masih konvensional. 
Kelemahan yang tersaji pada beberapa bimbel di atas adalah:
  1. Optimalisasi guru mengajar di kelas dapat dipastikan berkurang, karena potensi yang dimiliki guru seharusnya dengan maksimal diberikan di depan kelas ternyata tidak, sehingga model seperti ini sudah merugikan sekolah sebagai tempat mereka bernaung. Dengan bimbel seperti ini, otomatis guru membagi potensinya untuk mengajar secara ’ala kadarnya’ di kelas, dan cara praktis plus cepat dapat dipastikan akan dikeluarkan di tempat bimbel bukan di kelas secara formal. Dengan cara-cara seperti itu, para siswa akan berusaha untuk mengikuti bimbel di tempat gurunya. 
  2. Kejujuran seorang guru di saat memberi penilaian kepada siswa yang ikut bimbel dengan yang tidak ikut bimbel sangat diragukan kualitasnya, mengingat beberapa kemungkinan yang akan terjadi. Seperti siswa kelihatan pintar di kelas, atau pada saat ulangan nilainya bagus, padahal ia bisa menjawab karena sudah dibahas di tempat bimbel. Kepandaian siswa yang diukur dengan nilai yang ada di rapor akan terjadi kesamaan, yaitu siswa yang murni pintar tanpa ikut bimbel di tempat guru pengajar di kelas dengan siswa pintar karena kasus di atas, ujung-ujungnya untuk nilai di rapor bisa sama besarnya. Hal ini selain merugikan dunia pendidikan secara nasional, juga merugikan potensi murni yang dimiliki oleh seorang siswa.
  3. Munculnya bimbel yang ’tidak kelihatan namun ada’. Bimbel seperti itu akan merugikan pemerintah, sekaligus juga merugikan masyarakat. Karena model ini ibarat ada namun tidak ada yang seharusnya mampu menjadi wajib pajak baru. Mereka ada apalagi dalam jumlah yang banyak, namun free pajak.
  4. Permasalahan yang tersaji di atas harus dengan arif diselesaikan oleh semua pihak yang berpotensi untuk membentuk opini baru, bahwa guru dan lembaga bimbel yang ada benar-benar memiliki kualitas dan jati diri yang mampu dipertanggungjawabkan. Sebagai seorang guru hendaknya jangan takut memberi, karena dengan memberi dapat dipastikan akan membawa hawa kebaikan dan keberuntungan. 
Dengan keberadaan teknologi yang semakin canggih, menjadikan bimbel tidak lagi harus dilakukan dengan mendatangi suatu tempat, tetapi bimbel dapat dilakukan dalam bentuk ’Bimbel lewat internet dengan modal komputer atau lactop’. Model ini sungguh efektif dilaksanakan, mengingat teori efisiensi sangat berlaku. Hanya saja di awal, model ini hanya akan dijamah oleh mereka yang memang benar-benar mempersiapkan diri secara mandiri menghadapi tes atau ujian. Jika tidak, maka bimbel berteknologi pasti diam di tempat alias sepi penggemar. Tapi ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar siswa secara merata mampu mengikuti bimbel model ini. Banyak hal yang bisa didapat di sini, mulai dari tidak perlu pergi jauh, memberikan pilihan cara belajar yang efektif, efisien, interaktif, model soal di setiap kesempatan tes, trik dan tips mengerjakan soal-soal pun mampu diperoleh dengan leluasa. 
Konsep ini dapat dibentuk dengan konsep terbelah dua, yaitu:
  1. Tatap muka langsung, siswa langsung melihat dan berdialog dengan pengajar secara treaming, materi disajikan, siswa langsung berdialog dengan pengajar dan berdiskusi untuk menanyakan hal-hal yang belum dimengerti dan ingin diketahuinya untuk sampai pada penalaran yang berlogika. 
  2. Tatap muka tak langsung, menyediakan berbagai pelengkap yang dibutuhkan saat bimbel, seperti materi ajar, tes, cara penyelesaian, dll.
Konsep ini terasa lebih menyatu, jika keberadaannya merupakan kolaborasi dari pengetahuan yang disodorkan oleh pemerintah tingkat provinsi, dan kabupaten-kota yang bekerja sama dengan BP3 dan perguruan tinggi ternama yang ada. Penyajian berbagai materi bisa diperoleh dari para guru yang memiliki kualitas SDM yang dapat dipertanggungjawabkan, dan SDM yang dimiliki perguruan tinggi, tentang sesuatu yang berhubungan dengan tes atau ujian yang akan dihadapi siswa di daerahnya maupun di daerah lain. Jika hal semacam ini berkembang, maka konsep ini dapat lebih dikembangkan ke arah model bimbel yang kelak berorientasi pada tes atau ujian yang dihadapi para siswa yang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Hal ini ke depannya akan berdampak bahwa SDM yang ada di masing-masing daerah setingkat provinsi, pasti mampu bersaing dengan mereka yang ada di provinsi lain. Ujung-ujungnya, kualitas SDM di provinsi tersebut akan diperhitungkan di beberapa perguruan tinggi kelas dunia. Kasus yang terjadi di Cina, bahwa dalam kurun waktu 20 tahun mampu sukses mencetak 30.000 doktor di bidang sains dan teknologi yang diberi bea siswa bersekolah ke luar negeri, kemudian setelah tamat, mereka dijanjikan gaji yang setaraf dengan gaji di AS untuk mau membangun negaranya sendiri, dan mereka berhasil. Kasus yang sama terjadi di Malaysia yang berhubungan dengan guru. Mengapa tidak meniru konsep seperti itu? Sudah jelas dua aspek yang memegang peranan penting, yaitu bakat dan keahlian yang perlu mendapat perhatian yang lebih serius dari pemerintah dan masyarakat.
Simpulan yang dapat dihasilkan adalah teknologi yang dijadikan sebagai barometer dalam konsep bimbel ini adalah teknologi yang menekankan pada teknologi sebagai sebuah ide/gagasan cermerlang seorang guru (langkah awal mendekati konsep bimbel yang berteknologi); teknologi sebagai sebuah proses yang dilakukan guru (guru mengedepankan operasional bimbel yang perlu disebarluaskan dan ditindaklanjuti; dan terakhir teknologi sebagai sebuah hasil dari sebuah perencaan yang matang dan berkualitas keilmuan (yang terakhir ini diharapkan out put-nya mampu mendekati pencapaian cita-cita yang tertuang dalam perencanaan yang sudah dibuat).
 
(oleh  CIM Kusuma Widiawati)

Dibaca: 1591 Pengunjung


 
artikel Lainnya
06 Mei 2014 : Program Matrikulasi Sebagai Dampak Pelaksanaan Kurikum KTSP 2013 Secara Serentak Di Semua Satuan Pe
01 Desember 2013 : TATTOO TUBUH PENTINGKAH ?
17 September 2013 : Workshop Pengembangan Program Paket Aplikasi Sekolah (PAS)
11 September 2013 : Foto Lazer Bisa Membuat Orang Menjadi Muda
11 September 2013 : Sosok Yang Suputra Cerminan Pendidikan Yang Berhasil
Cari artikel :    
 

Drs. I Ketut Muditha,M.Pd

Wakasek Kurikulum

I Nyoman Sedana,S.Pd, MM

Wakasek Kesiswaan

Drs. I Made Siarta, M.Pd

Wakasek SaPras


VIDEO KEGIATAN
Video Kegiatan Lainnya

SITUS TERKAIT
  SMAN 4 Denpasar
  SMAN 5 Denpasar
  SMAN 2 Denpasar
  SMAN 3 Denpasar
  SMAN 8 Denpasar
  NUPTK
  SMAN 1 Denpasar
Situs Terkait Lainnya

JAJAK PENDAPAT
Bagaimana Penilaian Anda Terhadap Website SMAN 7 Denpasar?
Sangat Bagus
Bagus
Kurang Bagus
Jelek
 
Responden : 801 Responden
Lihat hasil

 

SMAN 7 Denpasar
Beranda
Peta Situs
Situs Terkait
Foto
Video
Kritik Saran
Kontak Kami
Peta Lokasi

Lihat Peta Lebih Besar
Statistik Pengunjung
1676631

Pengunjung hari ini : 18
Total pengunjung : 219461
Hits hari ini : 112
Total Hits : 1676631
Pengunjung Online: 1


Kontak Informasi
SMAN 7 Denpasar
Jl.Kamboja No.9 Denpasar - Bali, Indonesia
 
P. 0361-222544
F. 0361-222544
E. info@sman7denpasar.sch.id
W. www.sman7denpasar.sch.id

Copyright © 2009 - 2012 SMA Negeri 7 DENPASAR. All Rights Reserved.  
ikuti kami di