ikuti kami di
  Pencarian
 

Dra. C.I.M. Kusuma Widiawati

Kepala Sekolah


Oktober, 2017
MSSR KJS
1234567
891011121314
151617181920 21
22232425262728
293031    

DAPDODIK
  NISN
  NPSN
  NUPTK

KRITIK DAN SARAN
2013-04-18 11:17:02
  Fairus ( Riris)
  Hasil Olimpiade
 
2013-04-18 11:06:50
  Devi Andriyani
  Perangkingan hasil Olimpiade
 
2013-04-18 11:02:19
  I Putu Sundika
  Reuni lulusan tahun 1994
 

ALUMNI TRISMA
Nama Alumni
Angkatan
Jurusan


 
ARTIKEL DETAIL
http://sman7denpasar.sch.id/ - Rabu, 11 September 2013
Sosok Yang Suputra Cerminan Pendidikan Yang Berhasil
Dibaca: 1773 Pengunjung


Oleh : administrator

Sumber Photo : F:SMA 7 DpsEditing.
Perkembangan kemajuan zaman yang disertai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang kehidupan akhirnya membuka pola interaksi antar masyarakat dari berbagai latar belakang.
Demikian pula globalisasi akan memberi peluang dan sangat memungkinkan jaringan informasi dan komunikasi akan semakin terbuka. Globalisasi telah melahirkan keseragaman kebudayaan bangsa-bangsa di dunia sebagai akibat dari pesatnya perkembangan investasi, informasi, industri, dan individualisasi. Artinya, kemajuan yang dicapai itu sebagai ciri-ciri globalisasi, yang juga memberikan dampak negatif terhadap perkembangan sosial budaya masyarakat dan penurunan kepercayaan terhadap sradha agama.
Ketegangan psikologis juga dialami, baik oleh masyarakat transisi maupun modern sebagai akibat dari terlalu banyaknya perubahan dalam waktu yang terlalu singkat. “Kejutan masa depan” seperti ini mencapai puncaknya ketika masyarakat mengalami kesulitan lain, yaitu kesulitan dalam menentukan cara-cara beradaftasi dan penyesuaian diri terhadap perubahan yang serba cepat itu. Kegagalan dalam penyesuaian diri tidak jarang berdampak sangat fatal, seperti semakin tingginya keinginan untuk mengakhiri hidup dalam masyarakat Bali. 
Demikian juga peningkatan kebutuhan hidup yang diiringi oleh peningkatan pendapatan akan berpengaruh secara signifikan pada pola hidup masyarakat yang cenderung hedonis dan konsumeristis. Pola hidup seperti ini jika tidak disertai dengan peningkatkan pendapatan yang memadai cenderung akan memicu tindakan kriminal dan praktek-praktek premanisme dalam berbagai demensi dan skalanya. Data mengenai keterlibatan orang Bali dalam perkara yang menyimpang dari standar moral semakin meningkat, pencurian, narkoba, dan penyimpangan lainnya. Demikian pula kekeliruan pemahaman terhadap adat, budaya, dan agama yang diakibatkan oleh pergeseran orientasi serta terjadinya dekadensi moral yang akut akan melahirkan generasi yang immoral dan kontra produktif terhadap pembangunan yang holistik. Akhirnya, pengertian dan pemahaman terhadap jati diri dan integritas diri sebagai umat beragama semakin jauh dari arti dan maknanya yang sesungguhnya.
Mencermati situasi dan kondisi tersebut maka pembangunan Sumber Daya Manusia, yaitu anak yang suputra melalui bidang pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya patut menjadi salah satu bidang garapan yang wajib dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh. Dalam ajaran agama, manusia dicermati dari berbagai demensi karena manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi pahalanya, karena hanya manusia yang disempurnakan dengan manah, ahamkara, dan buddhi. Ditegaskan pula bahwa ketiga unsur tersebut tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya. Artinya, kesempurnaan ini memberikan kekuatan dan kekuasaan kepada manusia sebagai pengatur yang sanggup mempengaruhi dunia dan sekaligus pula sebagai yang diatur yang mampu menerima pengaruh dari dunia. Dalam perbuatan mengatur dan diatur tersebut perbuatan manusia dibentuk dan diwarnai oleh tri guna dan dinilai dengan tri kaya parisuda.
Mengenai tri kaya yang parisuda haruslah memenuhi sepuluh kriteria seperti yang diuraikan dalam Sarasamuccaya seloka 80 bahwa “Ajaran dari pikiran ada tiga, dari ucapan atau perkataan ada empat dan dari perbuatan ada tiga, jadi jumlahnya ada sepuluh”. Secara lebih rinci mengenai perbuatan pikiran yang baik dijelaskan pada seloka 81, yaitu “Perbuatan dari pikiran yang akan disampaikan, ada tiga banyaknya, antara lain tidak menginginkan dan iri hati atau dengki terhadap kepunyaan orang lain, tidak membenci semua jenis binatang, dan percaya terhadap karmaphala”. Selanjutnya, perbuatan ucapan yang baik seperti diuraikan dalam seloka 82 disebutkan bahwa “Yang tidak benar diperbuat dari ucapan ada empat, seperti pembicaraan yang kotor (tabu), pembicaraan keras dan kasar, pembicaraan yang memfitnah, dan pembicaraan yang bohong”. Lebih lanjut tentang perbuatan tingkah laku yang baik dijelaskan dalam seloka 83, yaitu “Ini yang tidak patut dilaksanakan, membunuh, mencuri, memaksakan kehendak, ini tiga perbuatan yang tidak baik dilaksanakan terhadap siapapun, di saat bersendagurau, di saat berkerumun, bahkan di dalam mimpipun sebaiknya dihindari juga itu”.
Menurut Putra (1998:33) bahwa manusa yajna merupakan pendidikan, pemeliharaan, serta penyucian secara spiritual terhadap seorang anak sejak terwujudnya jasmani di dalam kandungan sampai akhir hidupnya. Artinya, proses pendidikan tidak hanya berlangsung setelah anak itu lahir, tetapi telah berlangsung dan dapat diberikan sejak anak masih dalam kandungan sebagai pendidikan pranatal. Sejalan dengan hal ini Sudharta (1993:2) juga mengatakan bahwa pembentukan watak itu sudah dimulai ketika ibu bapak mengadakan senggama yang harus dilakukan dengan tujuan mendapat anak yang baik. Oleh karena itu, konsep tentang manusa yajna sebagai spirit membangun suputra, utamanya sebagai salah satu upaya dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia perlu lebih dicermati dan diwacanakan serta disosialisasikan secara terus-menerus dan lebih sungguh-sungguh.
Pengertian manusa yajna merupakan kurban suci yang dilakukan dengan tulus ikhlas dan ditujukan kepada manusia, sejak bayi masih dalam kandungan, setelah lahir, dan sampai akhir hidupnya. Itu berfungsi sebagai pemeliharaan, pendidikan, dan penyucian mental spiritual agar anak menjadi seorang anak yang suputra. Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa manusa yajna mengandung dua makna, yaitu makna niskala dan sekala. Dari perspektif niskala bahwa manusa yajna diaplikasikan sebagai sebuah upacara yang bermakna simbolis, yaitu mengandung makna harapan dan semangat hidup. Pelaksanaannya diiringi dengan doa-doa dan janji diri. Hal ini tampak pada arti dan makna simbolis dari sarana upakara dan mantra-mantra yang digunakan dalam prosesi upacara. Sebaliknya, dari perspektif sekala bahwa manusa yajna dalam realitas kehidupan sebagai pengalaman empiris sehari-hari dapat berarti sebagai tanggung jawab untuk memberikan pendidikan dalam arti seluas-luasnya, baik pendidikan jalur sekolah maupun pendidikan jalur luar sekolah. Hal ini sejalan dengan makna upacara manusa yajna seperti tersebut di atas.
Melalui upacara manusa yajna dan pendidikan (jalur sekolah dan luar sekolah) yang memadai diharapkan seorang anak dapat menjadi seorang yang suputra, yaitu manusia yang mempunyai pengetahuan, memiliki keterampilan, mampu mengembangkan sikap positif, dan berwawasan agama dan kebudayaan yang mantap sehingga ia dapat berguna bagi dirinya sendiri,  orang tua, keluarganya, masyarakat, dan lingkungannya. Hal ini merupakan inti dari tujuan pendidikan nasional (Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003), yaitu secara individual membentuk manusia mandiri dan secara sosial membentuk masyarakat madani. Artinya, agar dapat berguna seseorang haruslah dilatih, diajar, dan dididik supaya memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif yang didukung oleh budi pakerti yang luhur. Seperti dalam banyak sumber mengatakan betapa pentingnya penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu diantaranya ditegaskan dalam pustaka Slokantara seloka 55 yang menyebutkan bahwa “Ilmu pengetahuan itu bersinar di wajah orang bijaksana mengalahkan sinarnya surya. Orang bodoh itu tidak bedanya dengan tumbuhan menjalar yang kering kena sinar matahari. Pengetahuan itu adalah obor dalam jalan kehidupan”.
Agar ilmu pengetahuan dapat berguna bagi kepentingan hidup dan kehidupan (peradaban dan kebudayaan) maka sangat diperlukan seorang anak suputra yang berwawasan agama dan kebudayaan serta berbudi luhur, karena bila ilmu pengetahuan dimiliki oleh manusia yang memiliki watak jahat maka tujuan hidup jagadhita dan moksartam seperti yang diharapkan oleh sastra-sastra agama, selamanya hanya akan ada dalam teks dan pada tingkat wacana saja. Hal ini sesuai dengan Sarasamuccahaya seloka 356 yang menguraikan bahwa “Ilmu pengetahuan itu akan sia-sia dan lenyap kesucian dan kemanfaatannya kalau dimiliki oleh orang jahat, seperti air yang berada pada tulang tengkorak mayat. Betapakah mungkin akan suci dan bermanfaat, malah akan membahayakan jika ilmu itu ada pada orang yang berbudi rendah.” Hal ini sesuai dan sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, seperti yang dijelaskan oleh Mulyasa (2003), yaitu membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beretika (beradab dan berwawasan budaya bangsa Indonesia), memiliki nalar (maju, cakap, cerdas, kreatif, inovatif dan bertanggungjawab), berkemampuan komunikasi sosial (tertib dan sadar hukum, kooperatif, demokratis), dan berbadan sehat sehingga menjadi manusia mandiri.
Uraian tersebut mengantarkan pada pengertian dan pemahaman bahwa manusa yajna sebagai upacara yang bersifat simbolis itu, selanjutnya harus diteruskan sebagai landasan semangat dan tanggungjawab orang tua dan pendidik dalam memberikan pendidikan kepada anak didik. Di sinilah peran terpenting para orang tua dan pendidik dalam zaman yang serba tak menentu dan tak terbatas ini, terutama penanaman tentang hak dan kewajiban, kebebasan dan tanggung jawab, termasuk upaya-upaya penelusuran norma-norma etis. Selain itu, pemeliharaan dan pemabangunan terhadap social capital baru perlu dikembangkan secara terus-menerus melalui konsep manyama-braya. Dengan demikian maka konsep suputra akan dapat diwujudkan, yaitu sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beretika, memiliki nalar, berkemampuan komunikasi sosial, berbadan sehat, dan mandiri. Artinya, suputra adalah mereka (anak) yang berguna bagi dirinya sendiri, orangtua, keluarganya, masyarakat dan lingkungannya.
 
(Oleh: Mirah Kusuma)

Dibaca: 1773 Pengunjung


 
artikel Lainnya
06 Mei 2014 : Program Matrikulasi Sebagai Dampak Pelaksanaan Kurikum KTSP 2013 Secara Serentak Di Semua Satuan Pe
01 Desember 2013 : TATTOO TUBUH PENTINGKAH ?
17 September 2013 : Workshop Pengembangan Program Paket Aplikasi Sekolah (PAS)
11 September 2013 : Foto Lazer Bisa Membuat Orang Menjadi Muda
10 September 2013 : Bimbingan Belajar Berteknologi
Cari artikel :    
 

Drs. I Ketut Muditha,M.Pd

Wakasek Kurikulum

I Nyoman Sedana,S.Pd, MM

Wakasek Kesiswaan

Drs. I Made Siarta, M.Pd

Wakasek SaPras


VIDEO KEGIATAN
Video Kegiatan Lainnya

SITUS TERKAIT
  SMAN 4 Denpasar
  SMAN 5 Denpasar
  SMAN 2 Denpasar
  SMAN 3 Denpasar
  SMAN 8 Denpasar
  NUPTK
  SMAN 1 Denpasar
Situs Terkait Lainnya

JAJAK PENDAPAT
Bagaimana Penilaian Anda Terhadap Website SMAN 7 Denpasar?
Sangat Bagus
Bagus
Kurang Bagus
Jelek
 
Responden : 841 Responden
Lihat hasil

 

SMAN 7 Denpasar
Beranda
Peta Situs
Situs Terkait
Foto
Video
Kritik Saran
Kontak Kami
Peta Lokasi

Lihat Peta Lebih Besar
Statistik Pengunjung
1856384

Pengunjung hari ini : 89
Total pengunjung : 238270
Hits hari ini : 699
Total Hits : 1856384
Pengunjung Online: 1


Kontak Informasi
SMAN 7 Denpasar
Jl.Kamboja No.9 Denpasar - Bali, Indonesia
 
P. 0361-222544
F. 0361-222544
E. info@sman7denpasar.sch.id
W. www.sman7denpasar.sch.id

Copyright © 2009 - 2012 SMA Negeri 7 DENPASAR. All Rights Reserved.  
ikuti kami di